Distorsi Tayangan Televisi
Nama
: Anis Alfiah
NIM
: 175231003
Kelas
: PBS 2A
Jumlah Kata : 828
DISTORSI
TAYANGAN TELEVISI
Perkembangan
teknologi yang cepat dan pesat, dapat memudahkan kita dalam mengakses
informasi. Salah satu contohnya adalah mengakses informasi didalam media elektronik.
Kita dapat dengan mudah melihat tayangan televisi, baik tua, muda maupun
anak-anak. Bahkan pada masa sekarang, paling tidak ada televisi disetiap rumah.
Yang lebih memprihatinkan, tayangan televisi masa kini , banyak mengandung
unsur yang tidak mendidik, seperti berita, sinetron, dan juga komedi banyak
mengandung unsur-unsur negatif. Hal tersebut dapat membuat mental dan kejiwaan,
terutama anak-anak menuju ke arah yang negatif.
Dalam
melihat tayangan televisi memang ada manfaat dan juga keburukan yang kita
dapat. Hanya saja, pandai-pandai kita dalam memilih tayangan yang berkualitas
untuk kita tonton sehari-hari. Namun dalam pembahasan kali ini, saya akan
memaparkan dampak buruk terhadap kondisi mental dan fisik pada anak-anak
dibawah umur. Alasan saya memfokuskan pada dampak buruk terhadap anak-anak,
dikarenakan daya tanggap anak-anak yang terlalu cepat, dan juga proses meniru
disaat masih anak-anak juga masih sangat tinggi. Fakta bahwa pertelevisian di
Indonesia berdampak buruk pada anak-anak, seperti yang dikutip dalam Sinar
Harapan.co , sebagai berikut :
1. Masyarakat
mengeluhkan tayangan televisi yang tidak bermutu kepada pengelola televisi maupun kepada instansi
terkait yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga pengawas
penyiaran. Pada tahun 2014, misalnya setidaknya terdapat sekitar 40.000 aduan
masyarakat yang mengeluhkan isi siaran televisi nasional. KPI melayangkan 149
teguran dan tiga sanksi penghentian tayangan kepada perusahaan pengelola
televisi. Peringatan yang disampaikan KPI belum banyak berpengaruh terhadap
kebijakan perusahaan pengelola televisi.
2. Bukan
hal yang tidak wajar, jika tayangan televisi indonesia hingga saat ini
kualitasnya masih dibawah standar mutu sebuah siaran yang baik. Hasil survei
yang dilakukan KPI dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) serta
sembilan perguruan tinggi di sembilan kota di Indonesia pada pertengahan 2015
menunjukkan, indeks kualitas program siaran 15 televisi di Indonesia hanya 3,27
atau masih dibawah standar ketentuan KPI yakni 4,0. Artinya, banyak kualitas
program siaran televisi dibawah standar.
Dari
fakta diatas, membuka mata kita bahwa tayangan televisi yang berkualitas
sangatlah jarang. Hal tersebut membuat kita prihatin terhadap generasi penerus
bangsa yang kurang kompeten, dikarenakan informasi yang didapat pun kurang
bermanfaat pula. Dikarenakan mutu tayangan televisi yang tidak memdidik,
membuat orang tua menjadi kawatir akan kondisi anak mereka yang bersikap pasif.
Sikap pasif tersebut muncul karena, anak-anak terlalu sering berdiam diri
dirumah hanya menonton tayangan kegemaran mereka dan juga tidak ada aktivitas
fisik yang anak-anak kerjakan.
Hal
yang menyebabkan tayangan televisi tidak mendidik adalah bahwa tayangan
televisi yang mengandung unsur kekerasan dan juga unsur-unsur pornografi. Yang seharusnya tidak
dipertontonkan bagi anak-anak dibawah umur. Selain itu, Jam tayang siaran
televisi seperti kartun yang digemari oleh anak-anak, ditayangkan pada saat jam
anak sedang belajar. Hal tersebut membuat anak menjadi malas untuk belajar. Dan
juga, stasiun televisi yang hanya mementingkan rating semata. Biaya produksi
yang mahal, membuat produser televisi enggan dalam memproduksi tayangan
televisi yang berkualitas.
Dari
faktor-faktor diatas, menyebabkan berbagai dampak yang buruk terhadap
perkembangan anak-anak, yaitu sebagai berikut :
1. Anak-anak
mudah meniru dalam melihat tayangan televisi. Anak-anak sering meniru adegan
dalam tayangan televisi yang ditonton. Contohnya, meniru adegan perkelahian
yang dipraktekan terhadap teman sebayanya.
2. Membuat
anak menjadi malas dalam belajar, dikarenakan siara televisi yang digemari
diputar pada saat waktu belajar bagi mereka.
3. Anak-anak
menonton acara yang seharusnya belum pantas untuk ia saksikan. Hal tersebut menjadikan
kepribadian anak yang tidak pada umurnya mereka berpikir.
Berdasarkan
dampak buruk tayangan televisi yang tidak mendidik terhadap perkembangan anak-anak.
Hal tersebut membuat kita prihatin akan keadaan pertelevisian yang tidak
mendidik. Bahkan akibat dari tayangan
televisi yang tidak mendidik tersebut sudah terbukti berdampak buruk pada anak.
Banyak kasus yang menjadiakan anak-anak sebagai korbannya dikarenakan menonton
tayangan televisi yang tidak mendidik yang dikutip dari kompas.com , antara
lain sebagai berikut :
1. Pada
akhir April 2015 lalu seorang anak kelas 1 SD di Pekanbaru meninggal dunia
akibat dikeroyok oleh teman-temannya. Menurut keterangan orang tuanya, korban
dan teman-temannya sedang bermain sambil menirukan adegan perkelahian dalam
sinetron yang sempat ditayangkan di televisi.
2. Menurut
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat, Dedeh Fardiah. Ia
menuturkan, laporan kasus akibat tayangan kekerasan seperti berkelahi ala
tayangan Smack Down ataupun menonjok dan mencekik. Namun ia tidak memberikan
keterangan jelas jumlah kasus yang masuk akibat tayangan kekerasan tersebut.
Dari
kasus tersebut, kita harus memikirkan solusi bagaimana agar tayangan televisi
yang tidak mendidik tersebut biasa lebih diminimalisir. Upaya pencegahan yang
dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kasus serupa adalah yang
pertama, orang tua harus lebih memperhatikan tayangan televisi yang ditonton
oleh anak-anak. Yaitu dengan memdampingi anak pada saat menonton tayangan
televisi. Agar orang tua tau, mana tayangan yang layak dan juga tidak layak
untuk ditonton anak-anak.
Kedua,
pemerintah harus lebih tegas dan jeli dalam berbagai kemunculan tayangan-tayangan
pertelevisian yang tidak mendidik. Yaitu dengan memberikan hukuman, dengan
tujuan efek jera kepada produser televisi sehingga tidak menayangkan
tayangan-tayangan yang tidak mendidik melainkan tayangan yang berkualitas dan
bermanfaat.
Ketiga,
Komisi Peyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembaga resmi pemerintahan yang
berwenang sebagai lembaga pengawas penyiaran, harus tegas dalam menindaklanjuti
berbagai tayangan televisi yang tidak mendidik. Dengan mencabut izin penayangan
program televisi di ranah publik.

Komentar
Posting Komentar